Titik Akhir.

image-106

Di hari itu, Kau tidak bisa menembus diding yang aku bangun. Perdebatan pun terjadi di beranda rumahku, kehangatan dua gelas teh dan turunnya hujan tepat sebelum matahari terbenam, bukan lagi objek yang menyenangkan. “Kau harus mengerti bahwa aku tidak ingin terikat.” Jawabku waktu itu, tersirat kesedihan pada tatapmu. Aku melihat semangat di matamu perlahan menghilang. Kau pun bergegas pulang tanpa menunggu hujan berhenti. Menerobos derasnya dengan langkah yang terburu-buru, aku khawatir menatap punggungmu yang basah.

Aku mengerti bahwa akulah yang menyakiti hatimu.
Tetapi yang paling membingungkan, mengapa kini aku yang berantakan?

………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.